Electricity Lightning

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

http://s1335.photobucket.com/user/Imam_Miftahun_Miftah/slideshow/
Welcome To Midista Shop
Tampilkan postingan dengan label Materi Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Kuliah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juli 2013

Modul 1 Kewirausahaan


KONSEPSI  DASAR  KEWIRAUSAHAAN


KEWIRAUSAHAAN, SEBAGAI SEBUAH NILAI


Dewasa ini, dunia kewirausahaan (kewiraswastaan) tampaknya sudah mulai diminati oleh masyarakat luas. Namun, karena kurangnya informasi, banyak orang merasa masih belum jelas tentang aspek-aspek apa saja yang melingkupi dunia wiraswasta. Sebagian orang beranggapan bahwa kewiraswastaan adalah dunianya kaum pengusaha besar dan mapan, lingkungannya para direktur dan pemilik PT, CV serta berbagai bentuk perusahaan lainnya. Oleh karena itu, kewirawastaan sering dianggap sebagai wacana tentang bagaimana menjadi kaya. Sedang kekayaan itu sendiri seakan-akan merupakan simbol keberhasilan dari kewiraswastaan.

Bukan hanya sebagian masyarakat awam yang berpikir demikian, karena ternyata beberapa lembaga pembinaan kewiraswastaan juga mempunyai persepsi yang mirip dengan itu. Pada beberapa kesempatan, lembaga-lembaga tersebut menampilkan figur tokoh-tokoh sukses yang katanya berhasil menjadi kaya, dengan jalan berwiraswasta. Figur sukses itu antara lain terdiri dari tokoh-tokoh pengusaha besar yang masyarakat mengenalnya sebagai orang-orang terkemuka yang dekat dengan para pejabat pemerintahan.

Terlepas dari siapa tokoh-tokoh sukses dan kaya yang ditampilkan itu, serta bagaimana cara mendapatkan kekayaannya, marilah kita kembali ke inti persoalan : “Benarkah kewiraswastaan merupakan wacana tentang bagaimana caranya untuk menjadi kaya ?”
Kalau bicara sekadar menjadi kaya, tentu semua orang maklum bahwa tidak semua orang kaya adalah pengusaha, sebaliknya tidak semua pengusaha adalah orang kaya. Rata-rata pejabat di Indonesia sudah termasuk orang kaya atau orang berada, apalagi kalau pejabat itu korup. Karyawan-karyawan swasta, terutama para general manager dan direktur juga banyak yang kaya. Bahkan, ada pengemis jalanan berpenghasilan lebih dari Rp. 300.000,- bersih per hari, dan jelas bahwa ia berpotensi untuk menjadi kaya. Dapatkah mereka semua, termasuk para koruptor dan pengemis, menjadi figur panutan dalam wacana kewirausahaan ? Rasanya tidak lah ya..?

Kewiraswastaan atau kewirausahaan sebenarnya bukanlah bertujuan untuk menjadi kaya. Setidaknya inilah yang dekemukakan oleh para perintis kewiraswastaan di Indonesia sejak 3 dekade yang lalu. Merintis masa depan dengan belajar menjadi pengusaha lebih mirip dengan belajar bagaimana mengemudikan kendaraan. Seorang instruktur pada sebuah sekolah mengemudi mobil pernah berkata pada para siswanya, yang dalam praktek selalu berusaha untuk menjalankan kendaraan dengan kecepatan tinggi : “Keterampilan mengemudi bukan dilihat dari seberapa cepat kendaraan dipacu. Karena memacu kecepatan adalah hal yang mudah. Itu hanya soal seberapa dalam kita menginjak pedal gas. Ilmu mengemudi lebih merupakan keterampilan bagaimana menjalankan mobil dari keadaan tidak bergerak, menjadi bergerak dan berjalan dengan stabil, serta bermanuver dengan baik sesuai keadaan, berbelok, maju, mundur, parkir, menanjak, menurun dan lain sebagainya, tanpa membahayakan diri sendiri ataupun orang lain. Kecepatan adalah soal lain..”

Apa yang dikatakan sang instruktur memang benar. Keberhasilan mengemudi bukan dilihat dari seberapa cepat kendaraan dipacu. Demikian pun keadaannya dengan kewiraswastaan. Keberhasilan berwiraswasta tidaklah identik dengan seberapa berhasil seseorang mengumpulkan uang atau harta serta menjadi kaya, karena kekayaan bisa diperoleh dengan berbagai cara, termasuk mencuri, merampok, korupsi, melacur dan lain-lain perbuatan negatif. Sebaliknya kewiraswastaan lebih melihat bagaimana seseorang bisa membentuk, mendirikan serta menjalankan usaha dari sesuatu yang tadinya tidak berbentuk, tidak berjalan bahkan mungkin tidak ada sama sekali. Seberapa kecil pun ukuran suatu usaha, jika dimulai dengan niat baik, cara-cara yang bersih, keberanian dan kemandirian, sejak dari nol dan kemudian bisa berjalan dengan baik, maka nilai kewiraswastaannya jelas lebih berharga, daripada sebuah perusahaan besar yang dimulai dengan bergelimang fasilitas, penuh kolusi serta sarat dengan keculasan.
Dalam kewiraswastaan, kekayaan menjadi relatif sifatnya. Ia hanya merupakan produk bawaan (
by-product) dari sebuah usaha yang berorientasi kearah prestasi. Prestasi kerja manusia yang ingin mengaktualisasikan diri dalam suatu kehidupan mandiri. Ada pengusaha yang sudah amat sukses dan kaya, tapi tidak pernah menampilkan diri sebagai orang yang hidup bermewah-mewah, dan ada juga orang yang sebenarnya belum bisa dikatakan kaya, namun berpenampilan begitu glamor dengan pakaian dan perhiasan yang amat mencolok. Maka soal kekayaan pada akhirnya terpulang kepada masing-masing individu. Keadaan kaya-miskin, sukses-gagal, naik dan jatuh merupakan keadaan yang bisa terjadi kapan saja dalam kehidupan seorang pengusaha, tidak peduli betapapun piawainya dia. Kewiraswastaan hanya menggariskan bahwa seorang wiraswastawan yang baik adalah sosok pengusaha yang tidak sombong pada saat jaya, dan tidak berputus asa pada saat jatuh.

Tidak ada satu suku kata pun dari kata “wiraswasta” yang menunjukkan arti kearah pengejaran uang dan harta benda, tidak pula kata wiraswasta itu menunjuk pada salah satu strata, kasta, tingkatan sosial, golongan ataupun kelompok elit tertentu.
Terkadang orang tidak menyadari bahwa “wiraswasta” tidak sama dengan “swasta” dan “orang swasta” tidak dengan sendirinya merupakan wiraswastawan sejati, meskipun mungkin yang bersangkutan menyatakan diri begitu.. Ini disebabkan “wiraswasta” mengandung kata “wira”, yang mempunyai makna luhurnya budi pekerti, teladan, memiliki karakter yang baik, berjiwa kstaria dan patriotik. Oleh sebab itu dapat dipastikan bahwa seorang wiraswastawan sejati selalu memegang etika sebaik-baiknya dalam berbisnis.

Orang swasta yang berhasil mengumpulkan harta berlimpah, tidak dapat dikatakan sebagai wiraswastawan sejati, selama harta yang dikumpulkannya itu didapat dengan jalan yang tidak benar seperti kolusi, memeras, menipu, mafia-isme dan lain-lain aktivitas sejenis.

Saya menemukan bahwa kadang-kadang terjadi salah pengertian tentang istilah “kewiraswastaan” yang merupakan terjemahan dari kata asing “entrepreneurship”. Ada pendapat bahwa kewiraswastaan tidak hanya terjadi dikalangan orang atau perusahaan swasta saja, tetapi juga ada dilingkungan perkoperasian, lingkungan pendidikan bahkan dilingkungan badan-badan usaha milik pemerintah (BUMN). Oleh karenanya, “entrepreneurship” bukan monopoli kelompok perusahaan swasta saja. Maka kemudian timbul istilah “wirausaha” yang dianggap lebih universal dalam penerapannya. Gejala ini berlanjut lebih spesifik lagi dengan munculnya istilah “kewirakoperasian” untuk para aktivis koperasi.

Saya berpendapat, istilah “wiraswasta” tidak hanya menunjuk kepada orang-orang dari kalangan perusahaan swasta. Sebagai istilah yang mewakili kata “entrepreneurship”, penggunaannnya sudah sangat universal, sehingga sebetulnya tidak perlu lagi direvisi. Secara etimologi, sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Suparman Sumahamidjaya, arti kata wiraswasta bisa diuraikan lebih kurang sebagai berikut :

wira = luhur, berani, jujur, ksatria.
swa = sendiri.
sta = berdiri.

Jadi, maksud dari kata wiraswasta adalah, mewujudkan aspirasi kehidupan berusaha yang mandiri dengan landasan keyakinan dan watak yang luhur. Lebih spesifiknya, kaum wiraswastawan sejati adalah mereka yang berani memutuskan untuk bersikap, berpikir dan bertindak secara mandiri, mencari nafkah dan berkarir dengan jalan berusaha di atas kemampuan sendiri, dengan cara yang jujur dan adil, jauh dari sifat-sifat keserakahan dan kecurangan.

Definisi di atas tidak membatasi bahwa wiraswastawan harus seorang yang menjalankan perusahaan milik sendiri. Dengan demikian kewiraswastaan berlaku di lingkungan manapun, termasuk koperasi, BUMN, pengusaha kaki lima, makelar bahkan di lingkungan karyawan sekalipun. Sebab apa? Karena kaum profesional yang status formalnya adalah seorang karyawan, pada hakikatnya merupakan seorang wiraswastawan juga, karena mereka bekerja dengan menjual “leadership”, atas dasar kemitraan bisnis yang adil dan saling menguntungkan, dan bukan atas dasar keinginan untuk “menumpang hidup” semata. Para distributor dari sebuah perusahaan multi-level-marketing, sebagaimana agen-agen asuransi, juga merupakan pribadi-pribadi yang berusaha secara mandiri dan mereka berwiraswasta. Beberapa perusahaan yang telah maju ternyata juga didirikan oleh para mantan karyawan yang memiliki naluri kewiraswastaan. Hal ini menguatkan bukti bahwa nilai-nilai kewiraswastaan memang ada dimana-mana. Hanya saja, kewirawastaan ada yang kelihatan secara jelas, ada yang tersembunyi.

Betapa pun saya menyambut baik munculnya berbagai istilah alternatif, karena hal tersebut dengan sendirinya akan memperkaya khasanah kosakata bahasa Indonesia yang masih memerlukan pembinaan-pembinaan lebih jauh. Sebab itu, dalam situs ini akan dipergunakan istilah “wiraswasta” dan “wirausaha” secara silih berganti, agar tidak menimbulkan kejenuhan.

Beberapa aktivitas yang memiliki kandungan nilai kewirausahaan, baik yang jelas maupun yang tersembunyi bisa dicontohkan sebagai berikut :

1). Pengusaha-pengusaha “kantoran” yang menjalankan perusahaan milik sendiri atau bermitra. Baik dari kelas pengusaha besar, menengah ataupun kecil.
2). Pengusaha-pengusaha seperti pedagang kaki lima, warung nasi, restoran, toko klontong, bengkel, salon dan lain-lain.
3). Pengusaha candak kulak, seperti bakul jamu, tukang bakso pikul/grobak, dan lain sebagaiya.
4). Pengurus dan anggota-anggota koperasi.
5). Tokoh-tokoh pemasaran, seperti para direktur dan manajer pemasaran, sales representative, business representative, salesmen/girl door to door.
6). Para distributor multi-level-marketing serta para agen asuransi.
7). Tokoh-tokoh profesi seperti dokter, pengacara, notaris, konsultan yang membuka praktik sendiri, sampai supir taksi.
8). Mereka yang menjalankan bisnis sambilan, tanpa melecehkan pekerjaan utamanya sebagai karyawan.
9). Para karyawan, yang sambil bekerja, berusaha mengumpulkan modal dan belajar untuk mempersiapkan diri menjadi pengusaha nantinya.
10). Para makelar yang jujur.
11). Kaum profesional yang menjual leadership pada perusahaan-perusahaan besar mulai dari yang menjabat sebagai presiden direktur, direktur atau manajer.
12). Pekerja free-lance, instruktur-instruktur aerobik, pelatih olahraga yang bekerja waktu penuh.
SUMBER :
23 September 2008

KEWIRAUSAHAAN  SOSIAL

Menurut definisi, wirausaha adalah suatu kegiatan yang dapat memberikan nilai tambah terhadap produk atau jasa melalui transformasi, kreatifitas, inovasi, dan kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya, sehingga produk atau jasa tersebut lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat pengguna produk dan jasa (Prof. Raymond Kao, Nanyang Business School, Singapore 1999). Kewirausahaan (entrepreneurship) berpengaruh terhadap kemajuan ekonomi bangsa. Singapura misalnya, menjadi negara yang maju karena prinsip2 entrepreneurship.
Hasilnya adalah perusahaan IT kelas dunia yang awalnya dirintis oleh wirausahawan muda. Hal yang sama dilakukan negara-negara Amerika Serikat, Taiwan, Korea yang peka terhadap pembentukan entrepreneurs. (Gatot Johanes Silalahi, MSc; Sinar Harapan, 2003).
Dua setengah dekade lalu, Bill Drayton, pendiri dan CEO Ashoka, memprakarsai konsep kewirausahaan sosial. Prinsipnya tidak berbeda dengan kewirausahaan bisnis, bedanya kewirausahaan sosial digunakan untuk memenuhi kebutuhan sosial. Bagi Drayton ada dua hal kunci dalam kewirausahaan sosial. Pertama, adanya inovasi sosial yang mampu mengubah sistem yang ada di masyarakat. Kedua, hadirnya individu bervisi, kreatif, berjiwa pengusaha (entrepreneurial), dan beretika di belakang gagasan inovatif tersebut. Jadi wirausaha sosial adalah individu yang bervisi, kreatif, berjiwa pengusaha, dan beretika, yang mampu menciptakan inovasi sosial dan mampu mengubah sistem yang ada di masyarakat. Inovasi sosial yang dimaksud Bill adalah yang mampu menciptakan atau mengubah pola di masyarakat sehingga dapat mengakar. Dan karenanya, hal itu dapat berkesinambungan.
Contoh gemilang tentang kerja wirausahawan sosial adalah bagaimana Muhamad Yunus, pemenang Nobel Perdamaian 2006, yang dengan sistem kredit mikro yang lebih dikenal sebagai “Grameen Bank”, telah membantu jutaan kaum miskin di Bangladesh, terutama perempuan dan anak, untuk memperoleh kesejahteraan yang lebih baik.
David Bornstein memaparkan bagaimana para wirausahawan sosial dari berbagai belahan dunia yang hampir tak terliput oleh media namun telah mengubah aras sejarah dunia dengan terobosan berupa gagasan-gagasan inovatif, memutus sekat-sekat birokrasi, mengusung komitmen moral yang tinggi dan kepedulian (How to Change the World, 2004).
Selain buah kerja brilian Muhammad Yunus, David Bornstein juga menceritakan puluhan kisah wirausahawan sosial lain, seperti Fabio Rosa (Brasil) yang menciptakan sistem listrik tenaga surya yang mampu menjangkau puluhan ribu orang miskin di pedesaan, Jeroo Billimoria (India) yang bekerja keras membangun jaringan perlindungan anak-anak telantar, Veronika Khosa (Afrika Selatan) yang membangun model perawatan yang berbasis rumah (home-based care model) untuk para penderita AIDS yang telah mengubah kebijakan pemerintah tentang kesehatan di negara tersebut, dan banyak lagi tokoh yang buah tangannya telah terasa langsung manfaatnya oleh masyarakat.
Di Indonesia kita kenal Pak Bahruddin melalui paguyuban petaninya membuka peluang bagi petani untuk memenuhi hak-hak mereka, termasuk di antaranya layanan irigasi, akses pasar, dan perubahan pola pertanian organik yang terintegrasi dengan teknologi tepat guna. Selain petani berpeluang meningkat pendapatannya dan lahan pertaniannya dapat terkelola secara berkesinambungan, paguyuban juga berhasil membuat DPRD Salatiga mengubah perda berkaitan dengan pemenuhan layanan irigasi bagi petani.
Upaya Bahruddin tidak berhenti sampai di situ. Kini beliau sementara mengembangkan pendidikan alternatif berbasis teknologi informasi tingkat SLTP bagi anak-anak petani. Akses internet 24 jam digunakan selain untuk meningkatan kapasitas guru dan murid,juga untuk kegiatan belajar dan mengajar. Di samping itu, Sekolah SLTP Qaryah Thayyibah juga mampu melibatkan petani (orang tua murid) dan kaum muda sebagai relawan tenaga pengajar, dan juga pengusaha komputer yang dapat mendukung pengadaan komputer dan akses internet.
Semua upaya Bahruddin tidak lain didorong oleh kegigihannya mewujudkan perubahan. Kreativitasnya pun menggulirkan inovasi-inovasi sosial yang terus bermunculan seiring perubahan tantangan yang dihadapi masyarakat. Adapun kewirausahaan sosial sendiri hadir bagi hidup dan penghidupan yang lebih baik di dunia ini.
Kewirausahaan Sosial (Social Entrepreneurship) adalah bagian yang tak terpisahkan dari Kewirausahaan Strategis (Strategic Entrepreneurship). Hitt,Ireland&Hoskisson (2005) mengatakan bahwa Kewirausahaan Strategis (Strategic Entrepreneurship) yang biasanya dilakukan oleh perserorangan dan badan usaha adalah :
  • Mengambil langkah-langkah kewirausahaan dengan perspektif strategis.
  • Berperilaku menggiatkan pencarian kesempatan usaha dan keunggulan kompetitif.
  • Merencanakan dan mengimplementasikan strategi kewirausahaan untuk menciptakan keuntungan.
Usaha-usaha Kewirausahaan Strategis (Hitt,Ireland&Hoskisson: 2005) diatas harus didasari, didorong dan mempunyai tujuan pada beberapa faktor yaitu:
  • Cara berfikir kewirausahaan dari pendiri (founding father) organisasi atau badan usaha.
  • Mempunyai kelompok kerja untuk mengembangkan produk atau pelayanan.
  • Memfasilitasi inovasi dan integrasinya dengan menyebarkan nilai luhur dan kepemimpinan kewirausahaan.
  • Menciptakan nilai tambah melalui inovasi yang dilakukan.
SUMBER :
Djaja. 29 Nopember 2007.www.alphachimp.com/poptech/images/30_David-Bornstein.jpg&imgrefurl=http://djadja.wordpress.com/page/4/&h=764&w=576&sz=143&hl=id&start=1&um=1&usg=__A3rKz9YteAp9hx4vEEpbH8GPO-I=&tbnid=69RplT48LTeQSM:&tbnh=142&tbnw=107&prev=/images%3Fq%3Dkewirausahaan%26um%3D1%26hl%3Did%26client%3Dfirefox-a%26channel%3Ds%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official%26sa%3DG. 25 September 2008

Sabtu, 06 Juli 2013

Materi 14 Kewirausahaan

Kewirausahaan Bisa Dipelajari
Oleh : Atep Afia Hidayat (Pengajar Kewirausahaan Di Universitas Mercu Buana, Jakarta)

Ada orang yang beranggapan bahwa kewirausahaan itu bakat, bahkan karena keturunan. Hal itu merujuk pada adanya fakta pada etnis tertentu yang umumnya “berbakat” wirausaha, di mana kemampuannya jauh melampaui etinis lainnya. Sebenarnya kewirausahaan itu bisa dipelajari oleh siapapun, kapanpun dan di manapun. Namun pada akhirnya akan tergantung pada orang-per-orangnya juga.
Douglas Mc Gregor dalam bukunya The Human Side of Entreprise, mengemukakan Teori X dan Y. Teori X menyebutkan bahwa pada dasarnya manusia itu malas, maka harus dipaksa dan dikontrol ketat, supaya pekerjaannya memenuhi target tertentu. Sedangkan Teori Y menyatakan, bahwa manusia sebenarnya gemar bekerja, dan bila diberikan motivasi yang tepat dan tanggung-jawab yang sesuai, pasti akan terdorong untuk berprestasi.
Untuk menjadi seorang wirausahawan yang handal dan tangguh, kedua teori tersebut sangat mendukung dan bisa diterapkan. Terutama menyangkut kemalasan, gemar bekerja, motivasi, kontrol, target, tanggung jawab dan prestasi. Dalam diri seorang calon wirausahawan, faktor kemalasan tentu saja ada, bahkan pada setiap orang. Dengan demikian langkah pertama untuk menjadi wirausahawan ialah melenyapkan faktor kemalasan tersebut, lantas diganti dengan karakter gemar bekerja.
Perubahan karakter dari pemalas menjadi pekerja keras tentu tidak mudah, menuntut kedisiplinan yang tinggi. Untuk itu faktor-faktor motivasi, kontrol, target, tanggung jawab dan prestasi harus disertakan dalam berusaha. Upaya penerapannya dilakukan secara mandiri, tanpa bantuan dan instruksi dari siapapun. Itulah salah satu keunggulan dari para wirausawan, yakni berdisiplin untuk berprestasi dengan dorongan yang utama berasal dari diri sendiri.
Sedangkan Michael Maccoby dalam bukunya The Gamesman, menyebutkan bahwa salah satu keunggulan wirausahawan dibanding kelompok lainnya, ialah gemar perubahan dan peningkatan.
Karakter unggul dari wirausahawan sukses bisa diadopsi, yaitu melalui tahapan perubahan cara berpikir, perubahan sikap dan perubahan kebiasaan. Hal itu memerlukan proses belajar dan latihan yang terus-menerus. Untuk berhasil menjadi wirausahawan sukses diperlukan “jam terbang belajar” yang tinggi, dengan menggunakan “model belajar” kisah sukses tokoh-tokoh wirausahawan atau pengusaha terkemuka.
Saat ini kewirausahaan sudah dimasukan ke dalam kurikulum di perguruan tinggi dan SMA/SMK. Sehingga kelak berwirausaha akan menjadi pilihan utama, tidak seperti saat ini menjadi pegawai, bahkan PNS menjadi keinginan utama lulusan perguruan tinggi. Persoalannya, materi yang diajarkan sering terjebak pada teori dan teori, kurang dalam menerapkan praktek kewirausahaan. Padahal kewirausahaan itu praktek, hanya akan berhasil jika ditempuh melalui tindakan, aksi yang nyata. Sebagaimana ingin bisa berenang, yang terpenting ialah bukan mengkaji teorinya secara mendalam, tetapi segera “nyebur” ke kolam. Mau jadi wirausahawan ? Tidak ada pilihan lain, segera “nyebur” ke “kolam”, “lautan”, kalau perlu ke “samudera” kewirausahaan.

Filosofi Bisnis
Bisnis sebuah kata yang enak dan mudah diucapkan, juga termasuk kata yang sering diungkapkan oleh siapapun. Bisnis berawal dari kata dalam bahasa Inggris, business (baca 'biznis) yang padanan kata Bahasa Indonesia-nya pekerjaan; perdagangan; perusahaan; urusan dan perkara. Sementara kamus online http://www.merriam-webster.com/dictionary/business, setidaknya menyebutkan 10 pengertian business, antara lain : a usually commercial or mercantile activity engaged in as a means of livelihood ; personal concern. Sedangkan sinonim (synonyms) business ialah business, commerce, trade, industry, traffic.
Dalam konteks kekinian bisnis lebih melekat dalam kegiatan usaha dan urusan perdagangan atau kegiatan yang bersifat komersil. Sebagai contoh si A memiliki bisnis, setidaknya dia memiliki sejenis usaha yang akan memberikan keuntungan finansial. Terkait dalam konteks ini ialah istilah proyek, jual, beli, permintaan, penawaran, transaksi, deal, transfer, cash, kredit, dan sebagainya. Bisnis itu bisa berupa jasa atau barang. Bisa dalam jangka pendek atau panjang. Bisa halal dan legal, halal tidak legal, legal tidak halal, atau tidak halal dan tidak legal.
Tetapi dalam hal ini, bisnis bukan semata urusan keuntungan dalam bentuk finansial semata. Dalam bisnis ada prestise, kemanfaatan, kontribusi, amal, dan pahala. Kalau bisnis hanya mengejar keuntungan finansial semata, terlalu sederhana. Begitu naif. Nilai filosofi bisnis begitu luas, karena pengertian bisnia juga meliputi urusan dan perkara. Setiap hari kita memiliki banyak urusan, bisa dengan sesama manusia, begitu juga dengan Allah SWT, Tuhan yang menciptakan alam semesta, termasuk segenap manusia. Semua manusia berususan dengan penciptanya. Dengan kata lain bisnis juga terjadi antara manusia dan penciptanya. Allah SWT akan memberikan nilai tertentu bagi setiap langkah fisik, hati dan pikir yang dijalankan setiap manusia.
Dengan demikian, meskipun bisnis dalam pengertian sempit berarti usaha atau dagang, yang tujuannya mencari keuntungan. Maka keuntungan harus bersifat idealis, bukan komersialis semata. Kita berbisnis dengan Bismillah, dengan fokus mencarai ridlo dan pahala Allah SWT. Sedangkan keuntungan finansial sifatnya relatif, dan itu merupakan bagian dari rejeki yang telah disiapkanNya untuk kita jemput.

Bisnis Bukan Teori
Di sebuah kelas perkuliahan, seorang dosen dengan semangat mengungkap seleku-beluk dan abcd kewirausahaan. Kewirausahaan adalah ....., dan sebagainya, mengurai teori yang bersumber dari sebuah buku 10 bab, yang berisi seluk-beluk menjadi pengusaha atau pebisnis. Benarkah bisnis bisa di-teori-kan, sehingga muncul kajian-kajian Pengantar Bisnis, Manajemen Bisnis, dan sebagainya. Sebenarnya syah-syah saja, sebagaimana hal-hal yang bersifat keteknikan dibuat teorinya, misalnya Teori Hortikultuta atau Teori Telekomunikasi. Namun seringkali seseorang terjebak dalam rimba teori, keasyikan, sehingga lupa bahwa teori itu hanya sekedar wawasan atau "peta" sebagai panduan perjalanan lebih lanjut.

Mahasiswa terjebak dalam se-jibun teori, ach menyesakkan. Di kepala-nya ada setumpuk teori, puluhan jenis ilmu. Makin tinggi strata kuliah, S2, S3, maka teori pun makin banyak dijejalkan. Teori memang amat penting, terutama sebagai dokumen ilmu. Sulit dibayangkan jika teori atau ilmu tidak didokumenkan, maka akan terjadi kepunahan bidang-bidang tertentu. Jika tidak ada teori mesin atau otomotif, maka dunia prakteknya akan kehilangan generasi berikutnya, bisa stagnan karena tidak ada yang namanya pengembangan atau kajian.
Tetapi kalau hanya berkonsentrasi di teori, bangsa ini kapan majunya. Yang lebih dibutuhkan justru praktek atau aplikasi di lapangan. Bencana kelaparan tidak akan tuntas oleh Teori Kemiskinan, Seminar Kemelaratan atau se-abreg ilmu sosial lainnya. Kelaparan harus di atasi dengen pemenuhan kebutuhan pangan, bukan dengan teori Agronomi atau Agroindustri, tetapi dengan prakteknya.
Begitu pula dengan makin menumpuknya jumlah pengangguran, perlu di atasi secara taktis operasional, bukan dengan teori konseptual. Praktek, praktek dan praktek. Dalam hal ini, kita perlu mencontoh apa yang dilakukan Fakultas Kedokteran, di mana praktek menjadi dominasi. Karena dokter ya harus praktek, bukan sekedar ber-teori. Sebenarnya bidang kewirausahaan, bisnis atau apapun namanya, ya harus seperti. Mengutamakan praktek, praktek dan praktek. Karena bisnis memang bukan teori. 
 
Bisnis Bukan Sekedar Cari Uang
Bisnis memang bertujuan mencari untung, ada lebih dari modal yang kita tanam, ada ongkos lelah. Tetapi kalau sekedar untung yang dicari, cape dehhh ! Ya, akan menjadi cape, lelah yang luar biasa, jika hanya keuntungan yang dikejar. Ibarat bermain sepak bola, kalau hanya mengejar-ngejar terjadinya gol begitu melalahkan. Memang tujuan harus tercapai, tetapi yang tidak kalah pentingnya ialah prosesnya harus dinikmati. Bisnis adalah sebuah proses, ada tahapan yang harus dilalui. Bisnis adalah dinamika, terjadi dinamisasi situasi, ada perubahan dan pergerakan.

Sebagaimana sepak bola bisnis juga merupakan “permainan”, ada aturan main, ada trik, ada stretagi, ada peluang, ada hambatan, semuanya menjadikan pertandingan semakin dinamis. Masuk ke ranah bisnis, berarti siap bermain secara elegan dan sportif, siap menang dan kalah, siap untung dan rugi, bahkan siap bangkrut. Bisnis juga meripakan seni dengan beragam nilai dan kriteria. Bisnis yang sukses berarti mencapai untung yang optimal, sekaligus berhasil mengambangkan pribadi pelakunya. Bisnis adalah ajang pengembangan potensi diri, momen untuk membangkitkan beragam karakter positif yang dimiliki. Setiap orang pada dasarnya memiliki beberapa karakter unggul, ada yang muncul, ada yang terpendam, bahkan selamanya terpendam. Nah, dengan menekuni bisnis, maka beragam karakter positif itu akan terpancing, keluar dan terasah, sehingga mewarnai pribadi pelaku bisnis.
Bisnis adalah peluang dan tantangan, ancaman dan hambatan. Dinamika bisnis tergantung seberapa fokus dan konsen dari pelakunya. Kalau dijalani secara total, maka bisnis menjadi makin dinamis dengan kontribusi optimal untuk pelakunya. Bisnis juga merupakan pertarungan, pertarungan fisikal, mental, intelektual, spiritual, manajerial, sosial dan finansial. Kenyataannya proses bisnis melibatkan beragam aspek dalam kehidupan pelakunya.
Secara fisikal, bisnis memeras tenaga, dan memang harus dikerjakan dengan melibatkan organ tubuh. Secara mental, bisnis akan menghadirkan suasana kejiwaan tertentu, tergantung respon pelakunya, apakah menjadi “kenikmatan” tersendiri, atau sebaliknya menjadi “tekanan” atau “gangguan” tersendiri. Secara intelektual, bisnis memang perlu dipikirkan secara matang. Bisnis adalah olah pikiran, aktivitas intelektual untuk pencapaian nilai tertentu.
Bisnis juga merupakan proses spiritual, karena bisnis tidak identik dengan matematika, banyak ketidak-pastian. Pelaku bisnis dengan kondisi spiritual yang baik akan mudah mengendalikan bisnis dengan berbagai dinamikanya. Pelaku bisnis dengan kondisi spiritual yang kurang baik, menjadi mudah terguncang, stres dan depresi jika proses bisnis mengalami tekanan, hambatan dan ancaman. Bisnis juga merupapakn proses sosial.
Kesuksesan bisnis sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas jaringan sosial yang dimiliki. Terakhir, bisnis tentu saja merupakan proses finansial. Bagaimanapun harus ada nilai tambah atau untung dari proses bisnis.
Begitu menarik dunia bisnis, sehingga makin banyak orang yang tergiur dan terangsang untuk menekuninya. Ada yang sekedar coba-coba, ikut-ikutan, bahkan ada yang hanya jadi pengamat dan penonton. Bagi yang sudah memiliki jam terbang yang tinggi (di atas 10.000 jam) dalam menekuni bisnis, tentu saja ada kepuasan tersendiri. Ada semacam perasaan mantap, nyaman, jika sedang “terlarut” dalam proses bisnis. Dengan adanya kemajuan teknologi informasi, maka rimba bisnis menjadi semakin menarik.

Studi Kasus
Dari Lampung Menuju Paris
Dalam hangar bingar  bisnis mode tanah air, Aan Ibrahim memang belum sejajar dengan Popy Darsono, Prayudi, Iwan Tirta atau Ramli. Semua nama yang menjadi ikon mode di Indonesia tersebut adalah senior dan guru Aan. Sebagaimana pengakuan Aan, yang ditemui penulis, bulan Agustus 2007 yang lalu di Bandar Lampung.
Nama Popy Darsono sangat penting dalam karir bidang desainernya. Tahun 1989, ketika Aan mulai menikmati dunia desainer, Popy mengajaknya untuk mengikuti fashion show di Hotel Sahid Jakarta. Saat itu, perasaan Aan galau campur minder. Bagaimana tidak, seorang desainer lokal yang mulai merangkak dan belum dikenal, harus langsung terjun di pagelaran tingkat nasional bersama desainer kondang yang menjadi member Asosiasi Perancang Mode Indonesia.
Ternyata momen tersebut menjadi titik balik bagi bisnis mode yang digeluti Aan. Sehabis pementasan, Aan diwawancarai wartawan mode ibukota. Ternyata ada ciri khas yang diusung dalam busana rancangan Aan, yaitu penggunaan kain tapis yang khas Lampung. Tidak itu saja, Pasar Sarinah yang merupakan BUMN di Jakarta langsung memberikan order 220 pakaian dengan tiga rancangan, yang harus diselesaikannya selama tiga bulan secara hand made.
Tentu saja Aan girang bukan kepalang, maka dicarilah teman-temannya yang sanggup meminjamkan modal. Di sini mental dan aktivitas bisnis Aan kembali mendapat ujian yang berat, dari 220 pakaian jadi yang disetor ke Sarinah yang berlokasi di Jalan Thamrin Jakarta itu, ternyata yang diterima hanya 40 potong. Sisanya dikembalikan dan harus diperbaiki, karena tidak memenuhi standar kualitas.
Sejak itu pula Aan menjadi sadar kualitas dan menjadi proses pembelajaran yang sangat berarti.  Untuk sementara Aan pun shock, tetapi tidak berlangsung lama. Aan tidak memperbaiki baju yang dikembalikan, tetapi membuatyang baru sesuai dengan standar kualitas yang ditentukan Sarinah. Adapun produk yang dikembalikan ia jual di Lampung, dan habis dalam enam bulan. Orang sini saat itu belum begitu sadar kualitas. Begitu ujar Aan. 
Sudah memasuki tahun ke18 Aan menerjuni bisnis mode, berbagai fashionshow sudah diikutinya, baik yang diselenggarakan di Lampung, Jakarta dan beberapa kota lain di Indonesia, bahkan sudah mencapai Singapura, Kuala Lumpur, Hongkong dan Tokyo. Namun Aan belum berhasil menginjakkan kakinya di Paris, sebagai kiblat mode dunia.
Kendala utamanya bayar peragawatinya mahal, sekitarRp. 65 juta per orang per pentas, jauh lebih mahal dari tarif peragawati nasional. Faktor lainnya, dukungan pemerintah masih kurang, beda dengan kebijakan pemerintah Jepang, yangbegitu progresif mendukung para desainernya untuk tampil di Paris, sehingga beragam rancangan dari Jepang bisa sejajar dengan karya orang Eropa. Itulah obsesi Aan, menembus Paris.

Kilas Balik
Aan Ibrahim adalah putera Lampung asli. Desainer yang tidak berpenampilan glamour itu lahir 12 Juni 1955 di Desa Pagar Dewa, Tulang Bawang, Lampung. Aan menyelesaikan pendidikan formal di Lampung dan meraih gelar sarjana dari Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA), yang sekarang berkembang menjadi Universitas Tulang Bawang, Bandar Lampung. Menyangkut soal pendidikan, Aan mengkritisi kualitas pendidikan tinggi, yang menurutnya masih rendah. Teori yang diajarkan perguruan tinggi sudah ketinggalan dan ketika lulus sarjana tidak siap pakai. Banyak sarjana baru yang melamar ke perusahaan Aan tetapi sebagian besar ditolaknya, karena ketika ditanya apa yang bisa diperbuat,justru malah kebingungan. Padahal pelamar tersebut sudah mematok gaji awal Rp.1,5 juta.
Menurut Aan, idealnya para sarjana ketika melamar pekerjaan ke sebuah perusahaan, memberikan pernyataan tertulis sanggup meningkatkan omset, meskipun hanya satu persen.
Aan yang sebelumnya berstatus PNS di Rumah Sakit Abdul Muluk, Bandar Lampung tersebut, mengundurkan diri tahun 1982 setelah berkarir sebagai perawat kurang lebih 15 tahun. Saya bisa memprediksi bahwa karir saya mentok, paling tinggi hanya manteri atau kepala Puskesmas. Jangkauannya terbatas, paling hanya mengobati sampai tingkat camat. Bupati jelas tidak terjangkau, karena mereka berobat ke dokter spesialis. Begitu kilah Aan, ketika ditanya mengenai   alasan pengunduran dirinya. Padahal semasa sekolah perawat menggunakan sistem eleminasi, yang prestasinya kurang langsung dropout. Di sekolah itupun menggunakan sistem ikatan dinas.
Sepanjang tahun 1982-1989, Aan menjalani kehidupan yang penuh ketidakpastian. Aan mengistilahkannya masuk dalam periode terseok-seok, bahkan mobil kesayangannya pun terjual. Aan mengevaluasi diri, ternyata bakatnya sejak kecil adalah menjadi desainer. Namun penerimaan keluarga dan masyarakat kurang menggemberikan. Menurutnya, saat itu 90 persen masyarakat Lampung masih mengkotak-kotakkan profesi. Masih beruntung, putera sulung pasangan Ismi dan Hodijah yang berprofesi pedagang tersebut, mendapat dukungan penuh sang istri, Rosidah, yang berpikiran moderat. Maka Aan pun resmi menggeluti dunia desainer, dengan modal awal satu mesin jahit.
Ketekunan dan obsesinya yang luar biasa, membuat usaha Aan tumbuh dan berkembang. Bahkan sebagian besar dari adiknya yang berjumlah 16 orang, dari tiga ibu, justru memilih profesi serupa. Di kemudian hari terbentuklah CV Aan Ibrahim and Brothers, dengan 14 outlet tersebar di beberapa kota di Indonesia. Tentu  saja usaha pria yang memiliki dua puteri, yaitu Dewi dan Mawar, diwarnai pasang surut, baik karena sebab internal atau eksternal.
Namun Aan tetap bertahan karena memang bisnisnya disiapkan tumbuh secara perlahan. Penampilan Aan yang sederhana, cukup dengan kemeja batik, dan galerinya di Tanjung Karang yang sederhana, menunjukkan hal itu. Menurut Aan, banyak desainer yang sempat top lantas menghilang bagaikan ditelan bumi, hal itu karena gaya hidup jor-joran, tidak tahan dipuja-puji masyarakat dan tidak bisa menahan jiwa konsumerisme.

Kiat Bisnis Aan
Produk Aan Ibrahim memang dikenal mahal, harga baju rancangannya mencapai jutaan rupiah. Secara tegas Aan memang membidik segmen pasar menengah ke atas. Menurut Aan, 20 persen masyarakat memang sudah melek kualitas dan merk, dan itulah sasaran pasar produknya.
Aan sebenarnya banyak memiliki anak buah yang sudah mandiri, jumlahnyasekitar 30 orang. Mereka dulunya bekerja di perusahaan Aan, tetapi mengundurkan diri secara baik-baik dan membuat usaha serupa. Bedanya, kalau harga yang ditawarkan Aan Rp. 1,5 juta, maka mantan anak buahnya itu hanya Rp. 400 ribu untuk produk yang sekelas. Jelas sasaran pasarnya akan berbeda, dan keunggulan bersaing Aan lebih pada brand image.
Untuk mewadahi mantan anak buahnya itu, Aan mendirikan koperasi yang secara bisnis sudah berjalan dengan baik, memiliki manajer yang digaji tetap, serta pernah mendapat bantuan pemerintah sebesar Rp. 350 juta. Itulah salahsatu prestasi  Aan, selain menumbuhkan usahanya sendiri, ia turut berupaya mengembangkan usaha teman-temannya. Tak heran jika Aan sering mendapat penghargaan sebagai pengusaha teladan, baik di tingkat lokal atau nasional. 
Aan pun berkiprah dalam berbagai organisasi seperti Asosiasi Perancang Mode Indonesi, Asosiasi Pertekstilan Indonesia dan Kadin.
Kiat bisnis Aan sederhana saja, bahkan secara terus terang ia mengatakan, tak ada kiat khusus. Yang jelas obsesinya ingin terus maju. Salah satu strategi yang dijalankannya memperlakukan pelanggan secara spesial, diberikan keramahan dan pelayanan terbaik. Selain itu ia selalu menambah koleksi dan melakukan inovasi.
Bagaimanapun desainer itu identik dengan memproduksi gagasan. Seringkali ia mengalami kebuntuan. Misalnya ada show dalam beberapa pekan mendatang, tetapi ide untuk materi pementasan tidak muncul. Kadang-kadang setelah marah-marah, baru ide itu muncul begitu saja, atau kadang-kadang setelah ia mondar-mandir ke sana ke mari, baru ada ide rancangan paling mutakhirnya.
Menurut Aan yang memiliki latar belakang sebagai penjahit, menjadi desainer tidak mutlak berawal dari menjahit. Tidak banyak penjahit yang berubah status menjadi desainer, karena tidak punya ide. Seseorang dikatakan disainer harus punya garis rancangan yang tegas, beda dengan yang lain, dan paling tidak harus mempekerjakan minimal 15 orang. Sebagai contoh, perancang busana senior Prayudi, jejaknya banyak diteruskan para asistennya, namun semuanya mengacu pada pakem atau konsep yang ditetapkanPrayudi.
Sebagai manajer CV Aan Ibrahim, sebenarnya ia seringkali melakukan kegiatan menjahit, merancang, bahkan promosi sendiri. Jelas sistem manajemennya masih terkesan tradisional. Sampai saat ini CV Aan Ibrahim belum memiliki manajer produksi, keuangan atau pemasaran, semuanya dikendalikan Aan.

Dibajak Setiap Hari
Sudah ribuan rancangan yang sudah dibuat Aan. Ia mengakui tidak memiliki dokumentasi, bahkan foto-foto rancangannya pun tidak lengkap. Padahal karya Aan Ibrahim menjadi barometer dunia fashion di Lampung. Setiap hari karya-karya Aan yang eklusif dibajak penjahit atau industri konveksi di Lampung, selanjutnya dijual dengan harga miring di toko-toko busana yang ada.
Bahkan Aan punyapengalaman menarik, yaitu ketika seorang istri pejabat memesan gaun super spesial yang dirancang dan dibuat secara khusus. Sang istri pejabat protes berat ketika diketahuinya ada ibu-ibu lain yang menggunakan busana serupa tapi beda warna, ia menuduh Aan telah menggandakan rancangan spesialnya. Tentu saja Aan tidak menerima tiuduhan itu, bagaimanapun ia memiliki kredibilitas tinggi. Maka Aan pun mengusutnya, hasilnya menunjukkan bahwa pembajakan karyanya itu dilakukan melalui foto istri pejabat tersebut, yang sedang berpose dengan penganten saat ia menghadiri undangan pernikahan. Dengan gamblang Aan pun memberi penjelasan, menurutnya istri pejabat tersebut seharusnya bangga, karena menjadi seperti Lady Day, yang ketika foto-fotonya muncul di media, maka busana yang dikenakannya langsung menjadi trend dan diproduksi di seluruh dunia. Akhirnya istri pejabat itupun hanya mesem-mesem.
Membajak suatu rancangan sangat mudah, tinggal melihat di foto. Namun bagaimanapun merk tetap menjadi jaminan kualitas dan gengsi. Perlahan tapi pasti busana dengan merk Aan Ibrahim, apalagi yang bersifat hand made, saat ini sudah memiliki pangsa pasar tersendiri. Sebagian konsumen Aan sudah memahami mana produk asli dan mana yang bajakan. Ada semacam kepuasan tersendiri dari konsumen terhadap rancangan spesifiknya, sehingga faktor harga menjadi sangat relatif.
Pengembangan Usaha
Sebagai pengusaha lokal, aktivitas bisnis Aan menghadapi beragam peluang dan tantangan. Selain menekuni bisnis busana, Aan pun sempat terjun di bisnis media, yaitu dengan menerbitkan tabloid busana, hiburan dan keluarga “Pesona”. Melalui media tersebut,  Aan berupaya mencetak wartawan yang profesional  da nanti KKN. Tetapi dalam perkembangannya, tabloid tersebut kandas ditengah jalan, terutama karena kelemahan SDM. Padahal modal yang telah dikucurkan Aan tak kurang dari Rp. 600 juta.
Menyangkut pembukaan outlet untuk galerinya pun, tahun 1995 Aan juga mengalami kegagalan dengan kerugian yang tidak sedikit. Saat itu, bersama teman-temannya Aan menyewa satu space di Cinere Mall. Ternyata kalkulasi bisnisnya keliru, karena saat itu mall tersebut masih sepi pengunjung.
Itulah dunia usaha yang penuh dinamika, dibutuhkan stamina, keuletan dan kesabaran untuk mensiasatinya. Aktivitas bisnis Aan terus bergulir, sedikitnya dua bulan sekali ia melakukan show sebagai ajang promosi. Menurut pengakuannya, sekali show minimal harus dikeluarkan biaya Rp. 200 juta. Bagai Aan, prinsip pengembangan usahanya mengalir saja, tidak ada trik-trik khusus. Ia lebih banyak belajar dari pengalaman dan tanggapan serta kepuasan para konsumennya. Aan memang berobsesi menembus Paris dan mengekspor busana rancangannya. Kendala klasik yang dihadapinya menyangkut tenaga kerja dan quality control, terutama apabila menghadapi order yang cukup besar. Berdasarkan pengalamannya ia pernah diklaim pengusaha di Singapura, karena semua bajunya berbulu, karena memang terbuat dari benang yang mudah terurai. Untuk menghadapi klaim tersebut, maka Aan pun mencari benang khusus, sesuai dengan permintaan konsumen di Singapura.
Kegiatan usaha Aan memang memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, bahkan untuk sulaman, secara home industry tersebar sampai ke wilayah Tenggamus dan Lampung Timur. Meskipun untuk para pengrajin tersebut upah yang diberikan masih di bawah UMR, tetapi para pengrajin masih antusias, karena kesehariannya sebagian besar adalah ibu-ibu rumah tangga yang memiliki banyak waktu luang. Sulit bagi Aan untuk menaikan upah pekerja tidak tetapnya itu, karena baju sulaman yang dikerjakan selama sebulan oleh tiga orang itu, berharga Rp. 1,6 juta. Kalau upah dinaikkan, maka harga jual bajunya pun harus meningkat, tentu saja menjadi sulit mencari konsumennya.
Di tengah iklim usaha yang kurang kondusif dan kebijakan pemerintah yang kurang menentu, Aan terus berkarya, bahkan menurut rencannya ia akan merambah bisnis loundry dan salon, sekaligus mengembangkan galeri pusatnya yang ada di Lampung. Harapan pengusaha yang menurut pengakuannya masih sedang mencari jati diri itu, semoga apresiasi masyarakat terhadap karya-karyanya makin meningkat.
*** Berdasarkan wawancara Penulis  dengan Aan Ibrahim, sekitar Agustus 2007 di Bandar Lampung.

Referensi :
Atep Afia Hidayat. 2011. Dari Lampung Menuju Paris – Kisah Sukses Pengusaha Aan Ibrahim.

Atep Afia Hidayat. 2011. Bisnis Bukan Teori. Dalam : http://www.pantonanews.com/229-bisnis-bukan-teori

Atep Afia Hidayat. 2011. Filosofi Bisnis.

Atep Afia Hidayat. 2011. Kewirausahaan Bisa Dipelajari. Dalam : http://www.pantonanews.com/160-kewirausahaan-bisa-dipelajari

Atep Afia Hidayat. 2011. Bisnis Bukan Sekedar Cari Uang. Dalam :

Douglas McGregor. 1966 .The Human Side of Enterprise. Reflections Vol 2 No.1.

Materi 13 Kewirausahaan

CARA “GILA”  DAN CARA ‘TIDAK GILA” MENJADI PENGUSAHA

10 Jurus Terlarang (Kok Masih Mau Bisnis Cara Biasa?)
Untuk maju dalam bisnis atau kegiatan apa pun, tidak jarang kita membutuhkan ide-ide sekaligus tindakan ‘gila.’ Kegilaan yang lepas dari standar baku sebuah proses usaha. Tak jarang kemajuan diperoleh dari cara-cara yang tidak biasa. Nah, dalam bukunya berjudul 10 Jurus Terlarang (Kok Masih Mau Bisnis Cara Biasa?), Ippho Santosa mengajak para pebisnis berani mengeksplorasi jalan-jalan bisnis alternatif yang tidak monoton alias biasa-biasa saja.10 jurus yang Ippho tawarkan dalam buku ini menjadi semacam reminder bagi mereka yang mau dan sedang menjalani bisnis. Dengan cara bertutur yang sangat personal, bahasa yang renyah dibaca, nukilan-nukilan para maestro bisnis, Ippho menyajikan satu bacaan yang enak sekaligus kental gizinya.  Banyak orang berbisnis dengan berbekal  ragam teori. Tapi, tanpa kreativitas dari pebisnis, bisnisnya tidak bakal berkembang. Apalagi dunia kontemporer menyuguhkan kejutan-kejutan baru dan ketidakpastian.  Oleh karenanya, diperlukan inovasi, kreativitas, dan terobosan-terobosan baru dalam memutar roda bisnis bila tidak ingin bisnisnya berakhir dengan kehancuran atau pailit.
Jurus pertama, memulai dengan yang kanan. Ippho mengajak pembaca mengoptimalkan peran otak kanan. Pakar psikologi Daniel Goleman hemisfer otak kanan merupakan otak emosional. Ini terkait dengan kecerdasan emosional (EQ) dan dekat dengan daya intuitif, kreatif, dan ekstensif.  Sementara, otak kiri merupakan otak rasional yang memuat daya analisis, kalkulasi, dan perincian. Mayoritas orang kuat otak kirinya. Sementara, mereka yang kuat otak kanannya boleh dibilang minoritas. Justru di dalam suatu yang tidak mengikuti arus besar (mainstream) inilah ‘kegilaan’ itu berada.  Seorang pebisnis yang visioner berani menggunakan intuisinya. Sering terjadi petunjuk-petunjuk bisnis di pasar tidak komplit. Intuisi sangat berperan di sini. Selain itu, kreativitas menjadi penting. Guru pemasaran Philip Kotler mengakui ampuhnya kreativitas dalam marketing jeniusnya. Terakhir, satu kemampuan otak kanan adalah berpikir meluas. Seorang pebisnis butuh gambaran meluas tentang bisnisnya, impiannya, dan visinya.
Jurus kedua, keberanian memiliki impian dan mengeksekusinya dalam tindakan. Ippho memaparkan beberapa teladan bisnis-bisnis maupun penemuan besar yang lahir dari sebuah impian. Sebut saja Walt Disney dengan Disneyland, Einstein dengan Teori Relativitasnya, Wright bersaudara dengan khayalan pesawat terbangnya. Tapi, impian akan tinggal impian bila tidak ada aksi. Untuk itu, Ippho membuat rumusan DNA, dream and action.
Jurus ketiga, terjun seperti rollercoaster. Ippho mengajak orang menyiasati kegagalan. Pebisnis tidak akan maju jika tidak berani gagal. Kegagalan itu bumbu dalam bisnis. Donald Thrump dan Robert Kiyosaki pernah pailit. Tapi, mereka cukup ‘keras kepala’ untuk meratapi kegagalan. Layaknya rollercoaster, bisnis mereka harus kembali naik.
Jurus keempat, berdamai dengan badai. Sering kali orang menemukan kelemahan dalam bisnisnya dan ia cenderung memilih meratapi ketimbang bangkit. John Foppe, seorang yang dilahirkan dalam keadaan tidak berlengan mampu mengatasi kelemahannya. Ia mampu mengendarai mobil pada usia 16 tahun. Kini, ia populer sebagai motivator kawakan di Zig Ziglar Corporation. Kuncinya tak lain adalah passion.
Jurus kelima, duduk sama rendah. Semangat kebersamaan dan kerjasama tim jadi penting dalam bisnis. Ippho menyebutnya dengan team in love. Cinta (love) di sini diurai berdasarkan opini Sigmund Freud yang membagi cinta dalam 4 unsur, yakni hormat (respect), perhatian (care), tanggung jawab (responsibility), dan pengetahuan (knowledge). Empat unsur ini penting dimiliki oleh seorang pebisnis.
Jurus keenam, gantilah gelar dan jabatan. Personal branding sangat penting dalam membuka relasi bisnis. Caranya bisa sangat nyentrik. Ippho memberi tips cara gila membuat gelar. Termasuk cara gila memanfaatkan dan menebar kartu nama untuk membangun jejaring bisnis. Tom Peters berpendapat kartu nama itu tak ubahnya seperti kemasan. Sedikit banyak dapat menentukan apakah produk layak dipercaya atau tidak. Satu lagi, Ippho mengajak bagaimana secara gila menyapa pelanggan agar bisa ‘terbuai’ pada tujuan bisnis kita.
Jurus ketujuh, masuk surga paling dulu. Dengan judul lucu ini, Ippho mau mengajak orang bermental pengusaha maupun pemimpin. Seorang pengusaha akan membuka peluang kerja. Seorang pemimpin yang bijak akan menciptakan pemimpin di bawahnya. Dengan begitu, pondasi bisnis akan semakin kokoh. Ippho juga menawarkan satu cara gila bagaimana pembeli bisa mengejar-ngejar penjual. Sebuah cara gila yang membuat rejeki datang menghampiri kita dan bukan kita yang susah payah mencari rejeki.
Jurus kedelapan, membiarkan kudeta. Dalam jurus ini, Ippho memberi cara gila membuat merek punya nilai komersial. Bahkan, pada taraf tertentu, membiarkan konsumen sendirilah yang ‘membajak’ merek tersebut. Menyitir gagasan kontroversial Alex Wipperfurth  dalam Brand Hijack: Marketing without Marketing. Baginya, merek adalah kanvas kosong. Konsumen dibiarkan mewarnainya. Bahkan, ‘membajak’ merek tersebut (brand hijack). Aplikasinya, bagaiman para pelanggan loyal membentuk sebuah komunitas merek dan mereka merekrut semakin banyak anggota lagi.
Jurus kesembilan, mewaspadai zaman Edan. Ippho menekankan pentingnya pandangan positif pada zaman yang berubah dengan cepat. Ia menangkap ada 5 tren bisnis kontemporer, yaknipursuit spirituality, social marketing, people power, pursuit of simplicity, dan positivity insurection. Pada saat ini, pebisnis pun mulai menggali inspirasi bisnis dari sumber-sumber spiritual. Pebisnis juga mulai memperhatikan isu-isu ekologi dan sosial kemasyarakatan dalam kebijakan bisnisnya. Konsumen punya daya pengaruh kuat. Konsumen menginginkan produk-produk yang mengusung kepraktisan. Para pebisnis mulai berfokus pada apa yang bisa dikendalikan di tengah dunia serba krisis ini.
Jurus kesepuluh, mati dengan tenang. Bisnis tidak hanya perkara mengeruk keuntungan. Ippho mengajak pebisnis untuk membuka diri pada kepedulian sosial dengan passion dan compassion. Intinya, bagaimana para pebisnis juga memerhatikan etika dalam bisnis. Berbisnis dengan hati (conscience) sekaligus berbisnis dengan hati-hati (cautiousness).
Nah, ide-ide yang tersebar di buku Ippho ini mungkin boleh dibilang tidak baru. Tapi, satu kelebihan Ippho adalah mampu menyajikan ide-ide kreatif dan bahkan kontroversial dalam satu lanskap yang memudahkan pembaca mampu membaca ide-ide itu dalam satu rangkaian utuh. Apalagi Ippho mampu memberi contoh kasus yang kontekstual dengan persoalan lokal. Gaya penuturan yang amat personal membuat pembaca seperti berbincang-bincang dengan Ippho sendiri. Bagi pebisnis, buku ini seperti sebuah ‘camilan’ bergizi yang layak dikonsumsi. Renyah dan menyehatkan.
 Sigit Kurniawan adalah seorang redaktur Majalah Marketing dan pengasuh Meja Baca, sebuah weblog penggiat budaya membaca.
Sumber :
Resensi Buku 10 Jurus Terlarang (Kok Masih Mau Bisnis Cara Biasa?)
Pengarang      : Ippho Santosa
Penerbit       : Elex Media Komputindo
Tahun            : 2007
Tebal             : xii + 145
29 Juni 2009


Cara “Gila” Jadi Pengusaha

Buku Cara Gila Jadi Pengusaha yang ditulis Purdi E. Chandra, seorang pengusaha sukses di bidang pendidikan luar sekolah – sangat menarik untuk dibaca. Mampu menularkan virus kewirausahaan sesuai dengan sub judulnya Virus Entrepreneur Jadi Pengusaha Sukses. Cover depan buku ini sangat menarik sehingga peresensi tergugah untuk membeli dan membaca. Ternyata pembahasannya nyaris sama dengan buku Purdi yang berjudul Menjadi Entrepreneur Sukses (Grasindo, Jakarta, cetakan ke-enam, April 2005). Hanya beberapa sub bagian saja yang mengalami perubahan. Plus mendapatkan bonus DVD seminar Cara Gila Jadi Pengusaha.
Selain itu, yang mengalami perubahan adalah foto Purdi pada desain cover depan. Purdi. Pada buku terdahulu, Purdi mengenakan setelan jas lengkap dengan dasi.. Struktur buku terdiri dari 80 sub bagian yang dikelompokan menjadi 7 bagian. Pada cover buku yang sekarang, foto Purdi nampak lebih muda mengenakan kemeja batik lengan pendek bermotif bunga-bunga kecil yang peresensi tidak tahu nama bunganya. Struktur buku terdiri dari 76 sub bagian yang dikelompokan menjadi 8 bagian.
Sebagai bahan perbandingan, pada buku terdahulu bagian-bagianya yaitu ;
  1. Berani Modal Awal Entrepreneur
  2. Menjadi Entrepreneur Bagaimana?
  3. Pentingnya Kecerdasan Emosi
  4. Gaya Kepemimpinan Entrepreneur
  5. Intuisi Itu Perlu
  6. Mempelajari Pengalaman Entrepreneur Lain
  7. Entrepreneur University
Sedangkan pada buku yang sekarang bagiannya terdiri dari;
  1. Modal Jadi Entrepreneur Itu Cuma Berani dan Mimpi
  2. Ini Caranya Jadi Entrepreneur!
  3. Kecerdasan Emosional Penting Penting bagi Entrepreneur
  4. Gaya Memimpin Seorang Entrepreneur
  5. Jalur Cepat Jadi Entrepreneur Sukses
  6. Hati Nurani dan Intuisi sang Entrepreneur
  7. Apa yang Kita Pelajari dari Mereka?
  8. Entrepreneur adalah Soko Guru Perekonomian
Niat Purdi menerbitkan buku Cara Gila Jadi Pengusaha ini sangat mulya dan patut diacungkan dua jempol. Seperti yang ditulis dalam kata pengantar yang diberi judul Entrepreneur; Virus Maut, Cepat Menular, Bikin Pengidapnya “Gila”. Waspadalah!, sebuah kata pengantar yang sangat kontraversial tapi bernilai jual. Penulisnya memang piawai dalam membaca tren perbukuan, dan potensi pasar pembaca yang cenderung memilih buku dengan judul kontraversial.
Menurut Purdi, selain keberanian seorang entrepreneur modalnya adalah mimpi. Hal itu tertuang pada bagian satu yang berjudul Modal entrepreneur itu cuma berani dan mimpi! Keberanian seorang entrepreneur memang melekat pada diri penulis buku ini. Berani menjual produk lama dengan tampilan kemasan baru yang didesain sedemikian rupa sehingga memiliki daya pikat yang dahsyat. Menghilangkan enam sub bagian berikut; Jadi Pengusaha Tanpa Gelar, Tanpa Ujian Tanpa Nilai, Diwisuda setelah Jadi Pengusaha, Praktek Mancing Praktik Bisnis, Dari Pengusaha Sampai Raja Tempe, dan sub bagian Bisnis Belum Dianggap Bekerja.
Plus hanya menambah dua komponen pembahasan baru diantaranya pada; sub bagian 64- Dengan Otak Kanan Mengubah Musibah Jadi Barokah, dan sub bagian 76 - Yuk Menjual Perusahaan! Meraih Mimpi Bersama-Berkali-kali. Peresensi punya keyakinan “virus” ini-demikian Purdi memberikan istilah pada ilmu entrepreneurnya, akan menjadi buku best seller.
Kaum perempuan boleh berbangga hati bila membaca halaman 61 yang membahas, entrepreneur wanita memiliki banyak kelebihan karena ‘kewanitaannya’. Lebih luwes dan fleksibel, dan intuisi bisnisnya lebih peka. Penulis buku ini menyebutkan contoh wanita entrepreneur sukses seperti; Dr. Martha Tilaar, Moeryati Soedibyo, Poppy Dharsono, Dewi Motik, dan Nyonya Suharti. Apalagi dipertegas dengan pendapat Candida G. Brush, seorang professor assistant dari Management Police of Boston University,”entrepreneur wanita lebih kooperatif, informal, dan lebih mudah membangun kesepakatan dengan pihak lain. Sebaliknya entrepreneur laki-laki cenderung lebih kompetitif, lebih terkesan formal, dan lebih suka terkesan sistematik”.
Sebagai seorang entrepreneur, pertimbangan intuisi dalam mengambil keputusan juga sangat penting. Purdi mencontohkan saat akan membuka cabang perusahaannya di Solo, mobil yang mengangkut perlengkapan menabrak pohon. Beberapa rekan menyarankan untuk menunda pembukaan cabang di Solo dengan pertimbangan belum mulai usaha sudah mendapatkan musibah. Tetapi Purdi memiliki pertimbangan lain untuk melanjutkan, merubah mind set tahayaul yang sudah mendarah daging menjadikannya hikmah. Mungkin peristiwa ini sebagai tebusan yang mahal untuk kemajuan perusahaan. Terbukti kemudian, cabang Solo memiliki 10 outlet dengan siswa bimbingan belajar paling banyak. Lihat sub bagian 64- Dengan Otak Kanan Mengubah Musibah Jadi barokah (halaman 188-190).
Pada bagian lain di halaman 177, dalam kondisi perekonomian yang tidak menentu Purdi menyarankan untuk melakukan Jamming. Seperti kutipan pendapat Tom Peter, “perubahan yang serba cepat dan cenderung kacau itu pertanda zaman edan.” Jadi sangatlah wajar manakala buku ini diberi judul Cara Gila Jadi Pengusaha. Dengan begitu kita sebagai entrepreneur akan lebih siap menghadapi perubahan, dan akan lebih siap lagi mengatasi krisis, jika kita berhasil melakukan Jamming, tulisnya. Jamming itu identik dengan improvisasi yang dapat memunculkan ide-ide bisnis yang kratif dan inovatif.
Pada sub bagian terakhir dari halaman 228 – 231, Purdi mengajak pembaca untuk menjual perusahaan . “Yuk! Menjual Perusahaan! Meraih Mimpi Bersama, Berkali-kali,” demikian sub bagian akhir diberinya judul. Ooops…nanti dulu, yang dimaksud menjual perusahaan menurut Purdi, menjual perusahaan secara franchise. “Ini yang disebut menjual perusahaan berkali-kali,”tulisnnya. Seperti yang dilakukannya menjual Primagama secara franchise yang kini sudah menggurita menjadi 600 cabang.
Di lembaran terakhir terdapat brosur Entrepreneur University, sekolah bagi semua yang ingin menjadi pengusaha. Sekali dayung – berkali-kali pulau terlampaui. He…he…he..!!!
Good Luck…… Mr. Purdi!
Sumber :
Hadi Hartono (Peresensi)
29 Juni 2009


Cara “Gila” Jadi Pengusaha (2)

Beberapa hari yang lalu, saya membaca email di milis EU-2002 yang menawarkan DVD “Cara Gila Menjadi Pengusaha”. Karena saya adalah orang yang selalu tertarik dengan media-media yang membawakan berbagai content baru, saya coba order DVD tersebut melalui pesanan on-line. Ternyata, dalam waktu 48 jam, DVD sudah saya terima, sehingga pada malam harinya, ketika sudah agak santai, saya bisa mencoba untuk memutarnya di komputer saya. 

Tokoh sentral dalam rekaman itu sudah tentu Purdi E. Chandra, pemilik lembaga pendidikan “Primagama” sekaligus pencetus ide “Cara Gila Jadi Pengusaha”. Pada pemunculannya di menit-menit pertama, saya terkesan bahwa penampilan Purdi “biasa-biasa” saja. Malah saya berfikir, tampaknya tokoh kita ini bukan tipe seorang presenter sebagaimana yang kita lihat dalam diri Kris Biantoro atau Farhan, lebih-lebih bukan juga tipe orator, seperti Bung Karno atau Fidel Castro misalnya. Maka, alih-alih dari melihat action beliau, saya coba untuk “hanya” mendengarkan materi pembicaraannya saja. 

Lucu juga apa yang terjadi kemudian. Awalnya, saya sangat santai, bahkan terlalu santai ketika menyimak tanpa melihat ke layar, sambil mencoret-coret di atas kertas untuk keperluan kantor esok pagi. Namun tak lama, ibarat mesin diesel yang memerlukan beberapa waktu untuk menjadi panas, begitu pulalah perkembangan perhatian saya pada tayangan DVD tersebut. Lewat sepuluh menit sejak pembukaan, pembahasan Purdi makin menarik. Saya mulai meletakkan pena dan menoleh ke layar monitor. Lewat 30 menit, posisi duduk saya sudah sedemikian dekat dengan layar kaca, dan ketika bos Primagama ini mulai mengupas hal-hal yang berbau spiritual, saya sudah sangat terpaku menyimak penuh konsentrasi.

Tahukah Anda, bahwa akhirnya saya menghabiskan waktu menyaksikan DVD yang berdurasi lebih dari 3 jam itu, sampai pukul 1 lewat tengah malam? Dan non stop pula?

Banyak hal yang bisa saya tangkap dari tayangan DVD “Cara Gila..”, terutama sekali dari figur Purdi E. Chandra sendiri. Dan dari banyak hal tersebut, beberapa di antaranya saya kira perlu dicermati:

1) Purdi yang kita kenal sebagai sosok praktisi kewirausahaan, ternyata tidak saja memahami secara utuh tentang seluk beluk dunia bisnis dari segi teknis-praktis, namun lebih dari itu, ia juga mengerti dengan baik soal-soal yang menyangkut aspek spiritual. Di antaranya, ia mengatakan bahwa kalau seseorang ingin berhasil dalam berwirausaha, maka orang itu juga harus memperhatikan bahwa diperlukan aktivitas beramal, bersedekah atau kegiatan apa saja yang sifatnya memberi. Jangan sekali-kali berfikir ingin untung sendiri, hanya menerima tanpa pernah memberi pada orang lain. Sebab, alam selalu memerlukan perimbangan, kalau ada sesuatu yang masuk, maka seharusnya juga ada yang keluar Kalau ada yang tercurah ke bawah, maka seharusnya juga ada yang menguap ke atas. Sebagaimana alam mengatur air hujan yang turun ke bumi, mengisi sungai dan laut, menguap karena terkena panas matahari, berubah menjadi awan, untuk kemudian terjadi kondensasi dan akhirnya turun menjadi air hujan kembali. Dengan begitu, siklus alam ini berjalan dengan baik, tidak ada yang tersumbat. Siklus yang secara fisika kita sebut dengan “ecosystem”, suatu sistem universal yang mengatur perimbangan interaksi berbagai unsur yang terdapat di alam ini. Purdi sangat yakin bahwa sistem yang sama berlaku pula dalam dunia tak kasat mata, bahwa sebuah “spiritual ecosystem” juga berjalan secara harmonis. Sebuah sistem yang memberi pengaruh kuat atas segala fenomena yang terjadi di muka bumi, tidak terkecuali di dunia usaha. Chin Ning Chu, pimpinan perusahaan Asian Marketing Consultant, dalam karyanya “Thick Face Black Heart” (Muka Tebal Hati Hitam) menulis tentang hal yang sejalan dengan keyakinan Purdi. Chin menamakan fenomena spiritual itu dengan “darma”, yaitu sebuah hukum perimbangan yang mutlak terjadi menurut ketentuan-ketentuan alam. Siapa yang menanam, dia akan menuai. Sebaliknya, siapa ingin menuai, maka ia harus menanam terlebih dahulu. Demikian seterusnya. Lebih jauh, pendiri Primagama ini juga berusaha menyadarkan audiens bahwa semua sistem keseimbangan alam itu berasal hanya dari satu sumber saja, yaitu Sang Maha Sistem, Sang Penguasa Alam Semesta yang kita sebut dengan Tuhan. Maka, Purdi mengajak semua pendengarnya untuk meningkatkan spiritualisme terhadap Tuhan dengan berzikir, memuji kebesaran Allah sebanyak-banyaknya, kapan saja dan di mana saja. Ini luar biasa, sebab hampir semua wirausahawan top di dunia ini adalah orang-orang yang menjunjung tinggi spiritualisme. Ambil contoh, DR. An Wang (Wang Computers) dan Stan Shih (Acer) adalah penganut-penganut konfusianisme yang kental. Ternyata, Purdi mengerti itu!
2) Seminar tersebut dinamakan “Cara Gila Menjadi Pengusaha”, oleh karenanya tidak heran kalau pembicaranya juga menyebut-nyebut soal kegilaan dalam memulai usaha. Kalau tidak hati-hati, orang bisa saja menerjemahkan “gila” itu sebagai “gila-gilaan”, yang berkonotasi sebuah kenekatan tanpa perhitungan, kesemberonoan atau sebuah tindakan berjibaku tanpa mempedulikan lagi akibat-akibatnya. Apakah demikian? Entah karena memang sulit, atau karena yakin bahwa pendengarnya adalah orang-orang yang cerdas semua, saya tidak melihat Purdi E. Chandra menjabarkan lebih jauh tentang makna kegilaannya itu secara eksplisit. Ini tentu cukup riskan. Sebab, salah-salah, sebagian orang akan benar-benar mengartikan kegilaan itu sebagai tindakan pasukan jibaku-tai, tindakan bertaruh nyawa secara untung-untungan tanpa mikir! Meski demikian, saya kagum dengan cara tokoh ini mengistilahkan kata-kata simpel “gila”. Saya yakin, bahwa itulah cara Purdi untuk mensimplifikasi sebuah konsep kreativitas, yang oleh Edward De Bono diistilahkan dengan kata-kata “lateral thinking”. Coba perhatikan apa yang dikatakan oleh Edward: “…we have not yet paid serious attention to creativity. The first and most powerful reason is that every valuable creativity idea must always be logical in hindsight. If not logical in hindsight, then it would simply be a crazy idea..” Kita belum memberikan perhatian serius atas kreativitas. Penyebab utamanya adalah kita selalu beranggapan bahwa ide yang kreatif itu harus masuk akal, jika tidak masuk akal, maka itu hanyalah sebuah ide gila..! Edward De Bono memang pakar kreativitas. Ia mengerti sekali, bahwa kreativitas yang paling berharga itu hanya berjarak tipis terhadap kegilaan. Dan kegilaan Edward telah ia buktikan sendiri ketika ia mencetuskan ide untuk memasang lift di bagian luar gedung, bukan di dalam, demi menjawab tantangan penghematan ruang. Terbukti sekarang kita lihat berbagai gedung perkantoran, mal dan pusat perbelanjaan memasang liftnya di bagian luar gedung. Dengan kegilaan yang sama, UNITED COLORS OF BENETTON mendirikan banyak sekali gerai-gerai kecil dengan paduan warna-warni yang memikat hati. Dengan kegilaan yang sama, Pepsi menggelar pertunjukan super kolosal sang maha bintang Michael Jackson demi mengangkat citra produk minumannya. Dan dengan kegilaan yang sama pula, Purdi E. Chandra mengembangkan franchising Primagama ke seluruh Indonesia.
3) Bagaimana pula dengan istilah “kaya” dan “malas”? Intuisi saya mengatakan bahwa kalau orang sekaliber Purdi mengatakan “kaya”, maka yang dikatakannya itu adalah “kaya” (dengan tanda kutip) bukan kaya (tanpa tanda kutip). Apa artinya? “Kaya” artinya sejahtera bersama, paling tidak mereka yang memiliki kelebihan mau berbagi dengan mereka yang kekurangan. Sedangkan kaya berarti mereka yang ingin makmur sendiri, hanya menerima tanpa mau memberi, egois, hura-hura sendiri, plesir sendiri dan akhirnya mati sendiri pula. Demikian juga dengan perbedaan antara “malas” dengan malas. “Malas” artinya bekerja dengan ide dan gagasan, dengan otak bukan dengan otot, smart work, efektif dan efisien. Sedangkan malas adalah kemalasan ala si Kabayan, tidur sepanjang hari dari pagi sampai ke pagi lagi, tanpa pernah menggunakan baik otot mau pun otaknya.

Kesimpulan final yang dapat saya tarik dari DVD “Cara Gila Menjadi Pengusaha” adalah tidak terbatas dari sekadar mengatakan bahwa figur Purdi E. Chandra itu sebagai figur yang hebat dan monumental, tapi lebih dari itu saya ingin menyampaikan bahwa berbahagialah bangsa Indonesia ini yang masih diberi kesempatan untuk memiliki sosok wirausahawan seperti dia. Sosok yang dalam kesuksesannya, masih mau berbagi dengan sesama, agar banyak orang juga berkesempatan meraih sukses serupa. Dibutuhkan lebih banyak lagi Purdi-Purdi lain, agar bangsa tercinta ini dapat segera bangkit dari keterpurukan yang sudah berlarut-larut. Saya juga ingin menyampaikan selamat kepada warga EU, yang sudah dikaruniai Tuhan untuk bertemu dan belajar tentang sukses dari orang sukses seperti Purdi. Semoga akan segera muncul Purdi-Purdi junior yang akan menyusul jejak sang “Mbah” menggalang kekuatan ekonomi bangsa melalui kewirausahaan. 

Akhirul kata perkenankan saya mengucapkan kalimat dalam bahasa Mandarin : 

“ZHU NIMEN DOU KUAI’ LE”
“Semoga Anda semua berbahagia”

Sumber :
Rusman Hakim ( Pengamat Kewirausahaan)
http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/05/cara-gila-menjadi-pengusaha.html
29 Juni 2009


7 Cara Tidak Gila Jadi Pengusaha

Begawan entrepreneur, pemilik usaha Kemchicks Supermarket, Bob Sadino dikatakan “Gila” manakala menyampaikan cara berpikirnya, bagaimana bersikap dan bertindak untuk menjadi entrepreneur sejati pada berbagai kesempatan, baik wawancara ataupun seminar.
Adapula entrepreneur senior yang mengarang buku “Cara Gila menjadi pengusaha” yakni Purdi E Chandra, pemilik usaha Primagama dengan konsep BODOL (Berani Optimis Duit Orang Lain), BOTOL (Berani Optimis Tenaga Orang Lain) dan BOBOL (Berani Optimis Bisnis Orang Lain).
Kali ini resensi buku Mastermind TDA Jaksel mengulas buku “7 Cara Tidak Gila Jadi Pengusaha” karangan Bambang Suharno, pendiri dan Direktur Indonesian Entrepreneur Society (IES) yang juga pendiri PT Gallus Indonesia Utama.
Buku ini menyampaikan bahwa tidak semua orang mau dan bisa segila para entrepreneur yang bisa melakukan aksi-aksi gila saat memulai usahanya. Gila, nekat dan berani pasti bukan hal yang mudah bagi kebanyakan orang, apalagi bagi karyawan yang sudah berkeluarga. Menjadi Gila dan nekad bukanlah satu-satunya cara untuk menjadi seorang entrepreneur sukses.
Ada 5 mitos mengenai entrepreneur yang dibahas :
1. Entrepreneur terlahir, bukan dibentuk oleh lingkungan. Padahal sesungguhnya kesuksesan dalam bisnis tidak dipengaruhi ras atau bakat bawaan lahir, tetapi karena faktor didikan, persepsi dan lingkungan yang membentuknya
2. Bisnis semata-mata demi mengejar uang agar menjadi kaya raya. Padahal uang bukanlah tujuan bisnis, melainkan, uang adalah reward atas jerih payah dan ketekunan berusaha.
3. Berani mengambil jalan pintas dan tidak patut. Padahal kesuksesan dibangun atas dasar manfaat yang kita berikan bukan jalan pintas yang memberikan keuntungan sesaat
4. Sukses membutuhkan kenekatan, padahal berani mengambil risiko bukan berarti nekat tanpa perhitungan , tetapi didorong intuisi berdasarkan pengalaman sebelumnya.
5. Pengusaha merongrong harta kekayaan negara, padahal cara yang jelek akan menghasilkan sesuatu yang jelek, cara baik akan menghasilkan sesuatu yang baik. Jadi di dunia manapun ada yang menggunakan cara yang jelek dan cara yang baik, tergantung dari orangnya, apapun profesinya.
Adapun mental utama yang dibutuhkan untuk menjadi entrepreneur sukses adalah mental uang produktif, mental pemberdaya dan mental tangan di atas. Bambang Suharno mengingatkan bahwa kegiatan bisnis adalah kegiatan spiritual karena berbisnis tidak melulu mengenai materi, melainkan juga mengenai seberapa banyak manfaat bagi banyak orang.
Anda ingin tau bocoran 7 Jurus Tidak Gila Menjadi Pengusaha itu? Inilah caranya :
Jurus 1 : Bersedekah
Jurus 2 : Menabung
Jurus 3 : Carilah Peluang Usaha
Jurus 4 : Carilah Mitra Kerja
Jurus 5 : Kembangkan Usaha
Jurus 6 : Ikhlas Menerima Hasil
Jurus 7 : Bergaul dengan entrepreneur, menjadi anggota komunitas
Penjelasan ketujuh jurus itu dalam buku dengan 137 halaman ini sangat mudah dicerna, dengan gaya bahasa seorang jurnalis kawakan.
Buku ini membuat kita sadar bahwa menjadi entrepreneur masih bisa dilakukan dengan cara waras. Tidak ada rumus atau formula pasti untuk menjadi entrepreneur sukses, semuanya tergantung dari masing-masing individu. Ada yang cocok dengan cara gila, ada pula yang berhasil dengan cara waras. Apapun pilihan Anda, yang terpenting adalah tindakan nyata, karena berbisnis itu adalah dilakukan bukan direncanakan. Segeralah bertindak.
Keep Moving Forward Action

Sumber :
Bambang Suharno (Penulis). Bangkit Publishing (Penerbit)
Tjarli Suhendra (Peresensi)
dalam :

29 Juni 2009